|
|
Sri Suryatiningsih |
|
|
"Muhammad Yunus" nya Ampel Boyolali Pemenang Kedua, Kusala Swadaya kategori Motivator
 Tak berlebihan kiranya ketika menyebut Bu Ning, panggilan Sri Suryatiningsih sebagai Muhammad Yunus dari Ampel Boyolali. Bu ning memiliki kepedulian untuk meningkatkan taraf hidup perempuan miskin dan tak sempat mengenyam pendidikan di desanya. Ketika Muhammad Yunus memulai memberikan pinjaman kepada 42 orang, Bu Ning mengawali karyanya dengan mengumpulkan 5 orang perempuan di sekitarnya. Sejarah mencatat Muhammad Yunus gundah melihat realitas masyarakat miskin setelah mendapatkan gelar Doktor. Sejarah masyarakat ampel mencatat Bu Ning sudah gundah melihat realitas kemiskinan masyarakat di desanya dengan hanya berbekal gelar D3 Akuntansi.
|
|
Read more...
|
|
|
Dalinem |
|
|
"Pahlawan Swadaya" dari Pegunungan Candi Boko. Pemenang Pertama, Kusala Swadaya kategori Motivator
 Dusun Sumber Watu yang terletak di Pegunungan Kapur Candi Boko tak mengecilkan nyali Dalinem kecil menyusuri jalanan setapak sepanjang 10 KM untuk menuju sekolahnya. Berbekal prinsip hidup yang dikenalkan orang tuanya akan pentingnya pendidikan, wanita kelahiran 25 april 1951 ini mampu menyelesaikan pendidikannya di SMP 1 Prambanan. Kegigihannya ini pula yang menghantarkan dalinem menjadi salah satu nominator terkuat dan penerima penghargaan I Kusala Swadaya bagi Motivator. |
|
Read more...
|
|
|
Muhammad Yunus |
|
|
Berkenalan dengan M. Yunus
“One day our grandchildren will go to museums to see what poverty was like” (Muhammad Yunus, The Independent,May 5th 1996)
 Semangat dalam semboyan diataslah yang membuat seorang Muhmmad Yunus menerima nobel perdamaian tahun 2006. Bahkan karyanya di Grameen Bank telah membuatnya menyingkirkan kandidat lainnya. Seorang Presiden yang pada masa kepemimpinannya dapat menyelesaikan konflik yang berusia puluhan tahun. Untuk memahami makna perdamaian yang mengilhami karya M. Yunus, haruslah meluaskan makna perdamaian dari sekedar proses resolusi konflik.
|
|
Read more...
|
|
|
DALIUN NIZAR, Kejujuran adalah Mahkota |
|
|
|
“Kejujuran atau integritas ibarat mahkota artinya suatu nilai yang dijunjung tinggi dalam praktek bisnis keuangan,” tandas Dirut BPR Tata Arta Swadaya (salah satu BPR milik Bina Swadaya yang berposisi di Lampung) Daliun Nizar kepada INFO beberapa waktu lalu. Kedengarannya klise, namun sangat mendasar. Sebab pada hakikatnya, bisnis keuangan adalah “bisnis kepercayaan”. Kepercayaan merupakan tantangan utama dalam mengoperasikan lembaga keuangan. Bagi Daliun yang punya beberapa pengalaman menghadapi staf yang tidak jujur, orang yang tidak bisa bekerja masih bisa dididik atau dikembangkan, namun orang yang memiliki sifat tidak jujur akan sulit. Dalam batas tertentu ia masih bisa memaafkan staf yang tidak jujur apabila mau mengakui kesalahan dan tidak akan mengulangi perbuatannya. |
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Previous 1 2 Next > End >>
|
| Results 1 - 9 of 10 |